:::: MENU ::::

Saturday, October 19, 2019


Sudahkah anda menonton film joker? Saya sendiri belum pernah menonton filmnya. Itu karena menonton film di bioskop masih diharamkan oleh sebagian ulama karena terdapat ikhtilat di dalamnya. Saya memutuskan untuk tidak mendatangi bioskop seumur hidup saya. Lebih baik cari aman ketimbang harus menambah dosa kehidupan. Hehe. 

Kembali ke joker. Saya pertama kali mendengar film ini dari postingan seorang teman di facebook. Lalu karena penasaran, saya mencari trailernya di youtube. Alhamdulillah ketemu. Saya pun bisa sedikit memahami isi film tersebut. 

Setidaknya, dari trailer film joker, saya mengetahui bahwa sosok joker berawal dari seorang komedian dari kalangan masyarakat bawah yang terus menerus gagal meraih kesuksesan. Selain itu, pengaruh lingkungan yang menghina dan menyakiti si joker akhirnya mengubah ia menjadi sosok yang jahat. Jadilah ia si joker, musuh bebuyutan batman. 


Setelah film joker viral, muncullah quotes dari beberapa orang di media sosial. Quote yang paling terkenal mengatakan bahwa "Orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti". Secara latah quote ini banyak dibagikan. Kemudian banyak orang jadi memaklumi keadaan tersebut. Lalu, sebagai muslim, bagaimanakah kita harus menyikapinya? Mari kita belajar dari kisah-kisah para tokoh yang ada dalam Islam.

Pertama, kisah Rasulullah Muhammad shallallhu 'alaihi wasallam.  Beliau adalah manusia yang paling banyak disakiti oleh masyarakat di sekitarnya tatkala beliau mulai mengemban dakwah Islam. Jangankan kata-kata yang menyakitkan, bahkan serangan fisik pun sudah beliau terima. Padahal beliau berasal dari suku yang terhormat, memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan masyarakat Arab, namun beliau tetap mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat. Lantas apakah beliau berubah menjadi seorang penjahat? Tentu tidak sama sekali.

Rasulullah mengajarkan kesabaran kepada kaum muslimin. Kesabaran karena landasan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wa taala. Jadi apapun perlakuan buruk yang beliau terima takkan mengubah sosoknya menjadi orang jahat. 

Kedua, kisah nabi yusuf alaihissalam. Sejak kecil beliau sudah mendapatkan perlakuan buruk dari saudara-saudaranya. Bahkan beliau hampir kehilangan nyawanya. Lantas, apakah nabi yusuf berubah menjadi orang jahat karena pernah tersakiti? Tidak. Beliau justru bersabar dan memaafkan saudara-saudaranya.

Di dalam hidup ini kita mungkin akan sesekali mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan bahkan menyakiti kita baik secara fisik maupun perasaan. Namun semua itu bukan alasan untuk mengubah pribadi kita menjadi orang jahat. Kita diperintahkan oleh Allah untuk bersabar terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. Kita pun diminta untuk memaafkan kesalahan orang lain atas diri kita. Untuk itu, Allah subhanahu wa taala akan membalas kita dengan pahala yang melimpah.  Jadi takkan pernah ada Joker dalam Islam. 

Friday, October 18, 2019


Agama bukanlah perkara mudah. Ia diturunkan kepada seorang nabi dan/atau rasul yang berisi akidah dan syariat. Sejak dulu agama yang diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala berisi akidah yang sama yakni mentauhidkan Allah yang Maha Esa. Hanya saja syariat yang diturunkan kepada nabi-nabi dan para rasullah yang berbeda satu dengan lainnya.

Syariat itu akan sesuai dengan kondisi para nabi dan rasul serta umatnya pada masa itu. Namun berbeda dengan syariat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallhu alaihi wasallam. Syariat Islam adalah syariat yang terakhir, yang paling sempurna, dan menyempurnakan syariat-syariat yang ada sebelumnya. Ia mencakup seluruh manusia pada masa rasulullah hingga hari kiamat kelak.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam adalah agama yang diridhoi Allah subhanahu wa taala. Sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Maidah : 3 "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepada kamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam jadi agamamu." Karena itu kita harus menjalankan Islam sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Saat ini Rasulullah shallallhu 'alaihi wasallam memang tidak lagi bersama kita. Kita tidak mungkin mencontoh secara langsung kepada beliau. Namun beliau meninggalkan Al-Quran dan hadist sebagai pedoman hidup kita. Jika ingin selamat dunia akhirat maka kita harus berpegang teguh pada Al-Quran dan hadist. Namun, apa jadinya jika ada seorang muslim yang meragukan kebenaran Al-Quran dan hadist. Bahkan ia menganggap Al-Quran dan Hadist tidak lagi cocok dengan kondisi sekarang.

Begitulah yang terjadi pada seorang Waria yang video yang viral baru-baru ini. Ia berceramah di depan banyak orang dengan mengatakan banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang tak lagi sesuai dengan zaman sekarang. Tanpa landasan ilmu sedikitpun ia diberi panggung untuk berbicara masalah agama sesuai hawa nafsunya. Naudzubillah.



Ternyata kita telah sampai di masa dimana Ruwaibidhah banyak diberi ruang. Siapakah Ruwaibidhah itu? Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam sunannya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Dari kejadian ini, sebagai muslim kita harus menguatkan akidah dan ilmu agama kita agar terhindar dari mengikuti pendapat Ruwaibidhah seperti ini. Semoga Allah menjaga keislaman kita hingga akhir hayat dan menjauhkan kita dari kebodohan. 


Thursday, October 17, 2019

Siapa yang tak kenal dengan Korea Selatan sekarang ini. Beragam hiburan, mulai dari nyanyian, drama bahkan fashion kini kiblatnya ke korea Selatan. Saya dulu termasuk salah satu pecandu akut drama korea. Sehari tanpa drakor rasanya hidup begitu hampa. Alhamdulillah, sekarang saya sudah bertaubat 😊.

Apa yang begitu menarik dari hiburan korea? Pertama, tentu look dari aktris dan aktor mereka tentunya. Wajah yang terlihat perfect tentu sangat menjadi magnet terutama bagi kaum muda. Yang kedua, tentu dari alur drama percintaan yang disajikan. Kisah percintaan antara gadis biasa dan seorang lelaki kaya nan tampan menjadi sihir yang membutakan. Penonton drakor rela kehilangan berjam-jam waktunya hanya untuk menikmati kisah fiktif drama korea.

Kegemaran terhadap korea akhirnya menjadi sebuah euforia tersendiri. Akhirnya semua yang berbau korea akan diikuti. Termasuk gaya hidup, gaya berpakaian, gaya bicara dan gaya pacaran mereka. Norma-norma agama tak lagi diiindahkan. Yang penting diri bisa semirip mungkin dengan aktris atau aktor pujaan.

Tahukah anda, ternyata dibalik hiruk pikuk dunia hiburan korea Selatan, tersimpan sebuah sisi gelap yang amat menakutkan. Baru-baru ini publik digegerkan kembali dengan berita seorang artis cantik korsel yang bunuh diri akibat depresi. Penyebabnya ia sering dibully oleh netizen.

Kabarnya, sebelum bunuh diri itu dilakukan, si artis sudah sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit mental yang dialaminya. Ia bahkan pernah meminta netizen untuk berhenti membullynya. Sampai akhirnya orang-orang terdekatnya pun meninggalkannya sehingga memperparah kondisi depresinya. Lalu pada 14 oktober kemarin ia ditemukan tewas bunuh diri. Kasihan sekali.

Ini bukanlah pertama kalinya ada kabar bunuh diri yang dilakukan aktris dari jagad hiburan korsel. Kasus bunuh diri sudah sering terjadi. Penyebabnya karena depresi. Baik karena tekanan kerja atau yang lainnya.

Kasus seperti ini harusnya menjadi pelajaran buat kita semua untuk tidak mengikuti apa yang datang dari hiburan korsel. Meskipun mereka begitu menarik hati, tapi sebenarnya apa yang mereka bawakan tidak sesuai dengan kehidupan kita sebagai muslim. Bahkan budaya mereka pun bertentangan dengan adat ketimuran kita.

Alangkah bijaknya jika kita memanfaatkan waktu kita untuk memperbaiki kualitas hidup kita dibanding menghabiskan berjam-jam waktu kita hanya untuk sebuah kebohongan belaka. Sesungguhnya, kita akan ditanya tentang waktu luang kita di akhirat kelak. 

Friday, September 20, 2019

Baru seminggu lebih kepergian bapak, kami dibuat kaget kembali dengan kepergian keponakan yang lahir tepat di malam sebelum bapak meninggal. Bayi itu sejak lahir belum meninggalkan rumah sakit. Entah apa sebabnya tapi memang cuma segitu lah jatah hidupnya di dunia. Kami ikhlas. Surga lebih layak untuknya dibanding dunia yang semu ini.

Saat tiba di rumah duka, saya langsung mendekati jasad si bayi. Bekas tusukan jarum di badannya terlihat dimana-mana. Kakakku bilang pagi tadi si bayi di rujuk di rumah sakit besar di kota ini. Sejak jam sepuluh pagi, perawat bergonta-ganti menusukkan jarum inpus ke badan si bayi. Namun, semua usaha telah dilakukan dan pukul satu siang barulah ketemu titik yang pas untuk pemasangan inpus di badan si bayi.

Ku lihat kakakku bercerita sambil berurai air mata. Saya mengerti. Tentu sedih kehilangan bayi yang telah ada di dalam badan kita selama sembilan bulan. Saat kehadirannya begitu dinantikan untuk meramaikan suasana rumah, ternyata Allah lebih sayang dan memanggil ia kembali.

Saya mencoba menenangkan kakakku dan memintanya bersabar. Si bayi telah kembali ke surga. Meski ia tak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit tempatnya bersalin, namun saya memintanya untuk ikhlas. Semua karena ajal si bayi sudah sampai.

Bagi saya sendiri, dua kematian ini menjadi pelajaran berharga. Bahwa yang tua maupun muda akan tetap menemui ajalnya. Bapak yang berusia seratus lima tahun dan si bayi yang baru berusia tiga belas hari pun tetap mati juga. Semua adalah ketetapan Allah.

Kehilangan mereka berdua membuat saya mengerti bahwa segala yang saya kejar di dunia ini tidaklah pasti. Namun, ajal itu sudah pasti menghampiri. Ajal-lah yang harusnya siap disambut. Karena manusia tak pernah tau kapankah gilirannya tiba.


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Tuesday, September 17, 2019



Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan kemunculan sebuah film yang berjudul THE SANTRI. Saya termasuk salah satu yang cukup heboh. Saya pikir film ini akan bercerita tentang kehidupan santri yang sebenarnya sehingga bisa memotivasi para generasi muda untuk berlomba-lomba masuk ke pondok pesantren. Tapi, betapa kagetnya saya saat melihat trailer film ini di youtube.

Adegan demi adegan yang ditampilkan sukses membuat saya mengelus dada. Pertama, adegan membawakan tumpeng kepada jamaat agama lain. Entah apa maksudnya. Namun sependek pengetahuan saya, kita tidak boleh masuk ke tempat ibadah agama lain. Jangankan masuk, saat melihatnya saja, ada ulama yang sampai menyarankan untuk mengulang syahadat kita. Semua itu demi menjaga kemurniaan aqidah Islam yang kita miliki.

Kedua, sebuah adegan yang sontak membuat saya kaget adalah kedekatan seorang santri dan santriwati yang ada di film itu. Apakah mereka pacaran di film itu? saya juga tidak tau. Yang pastinya ada adegan saling lirik melirik dan berdua-duaan. Hal itu sangat bertentangan dengan ajaran islam yang melarang seorang wanita berdua-duaan dengan yang bukan mahromnya. Apalagi jika sampai pacaran. Karena pacaran itu adalah pintu yang lebar menuju zina. Sedang zina adalah sesuatu yang sangat tercela dan diharamkan. Jangankan zina, mendekatinya saja tidak boleh.

Lalu, saya sedikit merenung. Sebagai emak dengan amanah dua putri sholihah saya patut merasa was-was akan kehadiran tontonan yang seperti ini. Saya takut kemurnian anak-anak saya menjadi ternodai dengan pemahaman liberal yang jelas dipertontonkan pada film ini. 

Saya pun kemudian bertanya-tanya, kenapa film ini hadir sekarang? Mungkinkah ada kaitannya dengan menjamurnya anak-anak yang memilih pesantren sebagai tempat menimba ilmu. Orang-orang yang tidak bertanggung-jawab di balik film itu ingin merusak pola pikir anak-anak santri sehingga mereka pun akan terpapar oleh paham liberal dan tidak lagi menjadikan agama sebagai satu-satunya pegangan? Wallahu a'lam. Saya jadi ingat dengan dua keponakan saya dan satu cucu saya yang saat ini sedang nyantri. Semoga Allah menjaga dan melindungi mereka. Aamiin.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak anda semua untuk memboikot film THE SANTRI. Sebuah film yang sama sekali tidak menggambarkan islam yang sesungguhnya. Justru film ini sangat menodai ajaran Islam. Semoga ke depannya film-film seperti ini tidak lagi ada. 

Monday, September 16, 2019

Cerita ini sebenarnya sudah lama sekali. Namun tak apalah saya ceritakan sekarang. Mungkin saja bisa berbagi pelajaran. Juga mungkin bisa menyimpan kenangan.

Tahun lalu, tepatnya pada hari Iedul Adha 1439H, saya sekeluarga ditambah dengan kakak saya sekeluarga memutuskan untuk mengisi waktu dengan berwisata ke kolam Agro palopo. Sebenarnya ini juga sebagai pembayaran terhadap janji kami kepada Zahra dan Maryam untuk mengajak mereka berwisata. Qadarullah, ternyata kakak saya pun tertarik ingin ikut. Kakak saya juga punya anak gadis yang hampir seumuran dengan Maryam. Jadilah kita berwisata keluarga bersama.

Perjalanan menuju ke kota Palopo dari tempat kami cukup jauh. Jika menggunakan motor seperti kami, biasanya akan memakan waktu 45 menit sampai sejam. Apalagi jika dilakukan di hari raya seperti waktu itu. Suasana macet pasti tak terelakkan lagi. Otomatis, waktu tempuh pun bisa semakin lama.

Setelah melalui drama perjalan yang melelahkan, akhirnya kami sampai juga di tempat wisata air Agro Palopo. Ternyata pada hari libur seperti ini, suasana cukup ramai. Anak-anak yang baru pertama kali melihat kolam renang seperti terlihat takjub. Apalagi hobi mereka adalah bermain air. Dihidangkan air sekolam seperti itu serasa surga buat mereka, hehe.

Betul saja. Kakak Zahra terlihat antusias ini segera nyemplung ke kolam. Sementara Maryam masih terlihat malu-malu dan menahan diri. Setelah berganti pakaian, Zahra dan Dinda (anak kakak saya) langsung berlari menuju kolam anak yang telah saya tunjukkan. Tanpa aba-aba, mereka langsung melompat dan membuat badan mereka basah kuyup semua. Namun, perasaan gembira terpancar jelas di wajah Zahra. "Ah.. ini yang ku cari" mungkin pikirnya.


Puas melihat Zahra main air, saya mengalihkan pandangan kepada Maryam. Ternyata dia pun asyik mengamati kakaknya yang bermain air. Mungkin dia pun ingin bermain air, tapi entah kenapa dia jadi begitu pemalu disini. Sangat berbeda ketika maryam bertemu bak mandi di rumah. Ia pasti langsung kegirangan.

"Mak, mauka makan jajan" Pintanya setelah puas melihat tingkah si kakak.

"Boleh ji nak, tapi sampah plastiknya tidak boleh dibuang sembarangan nah. Kumpul di sini (menunjuk meja) nanti mama yang buang ke tempat sampah" kataku menjelaskan.

Di Agro, pengunjung memang dilarang makan sembarangan. Apalagi sampai membuang sampah plastik sembarangan. Hal ini karena sampah-sampah itu akan mengotori area kolam. 

Setelah kurang lebih dua jam bermain air, kami pun memutuskan untuk pulang. Alhamdulillah, sebuah hutang janji telah dituaniakan. Anak-anak pun senang karena puas bermain air. Saya pun cukup puas karena di tempat wisata ini menyediakan kolam renang untuk anak-anak. Tempatnya pun sangat bersih dan asri. Ditambah pemandangan sekitar yang dipenuhi dengan pohon-pohon. Mungkin lain kali kami akan datang lagi. ^_^
Saya masih setengah tersadar. Ku lihat suamiku melompat dari tempat tidur. Sontak hal itu membuatku kaget dan mengembalikan semua kesadaranku. Saya pikir tadi sedang bermimpi. Tapi, mungkinkah?

Saya segera bangkit dan berlari ke arah kamar bapak. Letaknya tepat di sebelah kamarku. Di dalam sudah ada mama dan suamiku mengangkat badan bapak memindahkannya ke tempat tidur. Ternyata semalaman bapak hanya duduk di kursi itu. Persis seperti saat malam tadi saya melihatnya telah teridur. Beliau pun tidur di kursi itu. Disana pula ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Seperti tidak percaya, saya mencoba memperhatikan wajah bapak. Sepertinya cuma tertidur. Saya lalu segera menelpon kakak saya yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari sini. Awalnya saya hanya meminta dia untuk datang melihat kondisi bapak. Yang ada dipikiranku waktu itu bapak hanya tidur. Bukan meninggal.

Usai menelpon kakak, saya mencoba mendekati bapak. Saya coba memeriksa apakah bapak benar-benar tidur. Alangkah kaget dan sedihnya saya ketika mendapati ternyata bapak benar-benar meninggal. Air mata sudah tak dapat dibendung lagi. Saya mencoba menguatkan diri. Sekali lagi saya menelpon kakak saya dan mengabari bapak sudah meninggal.

Saya merasa sedih dan tidak percaya atas kejadian itu. Saya menguatkan diri dan mencoba menghubungi semua saudara-saudara saya. Masih dengan suara isak yang terbata-bata, saya berbagi kabar dengan saudara saya satu per saru. Setelah semua selesai, saya kembali ke kamar bapak untuk melihat kondisi bapak.

"Ya Allah, ternyata ajal bapak benar-benar telah datang. Innalillahi wa innailaihi rojiun." batinku dalam hati.

Di kesempatan terakhir ini, saya mencium kening bapak. Hal yang tidak pernah ku lakukan sepanjang beliau hidup. Kini sebagai ucapan perpisahan terakhir, saya harus menciumnya. Saya berusaha meminta maaf meski hanya di dalam hati. Meski ucapan itu takkan lagi pernah didengarnya.

Rasa shock, sedih, dan tidak percaya berkumpul menjadi satu. Saya hanya duduk sambil terus berkata "kali ini bapak benar-benar pergi".
Kamis adalah hari yang sibuk. Tetangga gandeng rumah mengadakan acara lamaran anak gadisnya. Sebagai tetangga yang baik, meski dalam keadaan hamil, saya menyempatkan diri untuk rewang sebentar. Sementara di rumah, saya melihat bapak sedang tidur di kursinya. Sejak kemarin bapak selalu menolak ketika ditawari makan. Sepertinya penyakit tua bapak kambuh.

Selama ini saya sering mendengar rumor kalau bapak ini memakai ilmu memperpanjang usia. Katanya, orang-orang tua dulu pasti memakai ilmu itu. Rumor itu semakin kuat mencuat saat beberapa bulan lalu bapak sakit parah. Bapak sudah dalam keadaan sekarat. Bahkan pihak puskesmas sudah mencabut oksigen dan inpusnya karena bapak sudah tidak sadarkan diri. Sepanjang malam kami menangis. Ajaibnya, saat selesai waktu shalat subuh, tiba-tiba bapak sadar lalu duduk dan minta dibelikan air dan kue. Sontak kesadaran bapak itu membuat kami sedikit kaget namun bahagia. Ahh.. yang penting bapak sudah sadar. Esoknya, bapak sudah diperbolehkan pulang.

Kejadian itu menjadi pembicaraan banyak orang. Asumsi terbesar yang beredar, bapak cuma bisa meninggal jika ia melanggar pantangannya atau dengan sendirinya bapak melepas ilmunya itu. Namun saya berpendapat lain. Sebagai muslim yang taat tentu saya sangat yakin, tidak ada satu ilmu pun yang mampu menandingi ketetapan Allah. Sedang ajal adalah salah satu ketetapan Allah yang tak mampu ditolak oleh siapapun. Tak bisa maju sedetik ataupun mundur sedetik saja.

Sejak peristiwa sakitnya bapak waktu itu, alhamdulillah bapak selalu dikaruniai kesehatan. Kalau pun sakit, paling cuma demam atau batuk biasa. Seperti kamis lalu. Bapak cuma sakit batuk biasa. Namun, nafsu makannya benar-benar hilang. Beragam makanan sudah saya dan mama tawarkan. Tapi tak ada yang membuat seleranya bangkit dari persembunyian.

Setelah acara lamaran tetangga selesai. Tepatnya sesaat sebelum shalat ashar. Saya kembali bergegas pulang dan mengganti pakaian anak-anak. Selepas shalat, saya beserta suami dan anak-anak harus segera berangkat ke rumah sakit. Disana kakak saya sudah masuk ke ruang operasi untuk menjalani operasi caesar anak ke sebelasnya. Sesaat sebelum berangkat, saya menemui bapak yang sedang duduk di dapur. Sepertinya bapak tengah mengatur nafas sejenak setelah terengah-engah kembali dari toilet.

"Pak, aku neng palopo sek yo..

Saya mencoba berpamitan. Di rumah saya terbiasa memakai bahasa jawa. Namun saya hanya bisa sekedarnya saja. Maklum. Saya adalah anak keturunan jawa asli namun lahir dan besar di sulawesi hingga kini. Bisa bahasa jawa saja sudah syukur meskipun cuma bahasa sehari-hari. Untuk bahasa jawa halus saya sudah dipastikan gagal. Jadi seperti itulah percakapanku dengan bapak sehari-harinya.

"Enek opo neng palopo?" tanya bapak dengan nada suara yang sangat lemah.

"Yu ti dioperasi sak iki. Aku ape nunggui neng kono. Engko na wes mari operasi lek balik" Kataku mencoba menjelaskan.

"Oh. yo wes. Cah-cah mu ajak to?"

"Iya."

Setelah itu saya pun pergi meninggalkan bapak di rumah berdua saja bersama mama. Saya baru kembali saat malam sudah memasuki jam 11. Badan terasa lelah sekali setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam perjalanan dengan motor. Yang ada dipikiranku saat itu adalah merebahkan diri di tempat tidur dan segera tertidur dengan nyenyak. Namun, sebelum semua itu ku lakukan, ada terbersit keinginan untuk menyapa bapak. Saya melangkah menuju ke kamarnya, namun ku lihat bapak tengah tidur. Saya pun kembali ke kamar lalu tidur.

Tiba-tiba...

Saat subuh menjelang, mama mengagetkan kami semua.

"Pak'e Zahra, mak'e Zahra... deluken sik pakmu. Pakmu wes mati...."




Bersambung...

Wednesday, September 4, 2019

Kenapa tiba-tiba pagi ini saya ingin membuat tulisan ini ya? Hmm.. mungkin saja ini yang dinamakan ilham (mas ilham jangan tersinggung ya, hehe). Semoga saja tulisan saya kali ini bisa menginspirasi diri saya sendiri sekaligus sebagai pengingat diri. Kalau pun bisa membawa manfaat buat pembaca blog ini, tentu saya lebih bersyukur lagi.

Alasan.

Kenapa dengan alasan? Mungkinkah ini berhubungan dengan pembicaraan di wa grup semalam tentang rasa malas. Mungkin saja. Akhirnya pembahasan itu saya bawa ke dalam mimpi dan menjadi inspirasi di pagi ini. Semua sudah masuk dalam rencana Allah. Karena tak ada satu pun yang luput dari kekuasaan Allah.

Kemarin di wa grup kepenulisan, kita para member lagi membahas rasa malas yang sering menghantui sehingga menyebabkan writing block. Tentu hal itu menjadi rintangan yang amat besar yang dihadapi hampir setiap penulis. Rasa malas adalah musuh terbesar. Karena itu sebagai solusinya seseorang memerlukan alasan.

Kenapa Alasan?

Alasan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Sadarkah kita, kita ada sekarang ini juga karena ada alasan. Jika tidak, mungkin bukan kita yang diciptakan, tapi makhluk yang lain. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaKu" Q.S. Ad-Dzariyat : 56.


Bukankah ini sebuah alasan?

Kita hidup saja karena sebuah alasan yakni untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Apalagi dalam hal menjalani kehidupan ini, tentu kita butuh sesuatu hal yang bisa membuat kita bergairah menjalaninya. Hal itu adalah alasan.

Hidup ini kadang menjadi sangat membosankan. Mungkin karena rutinitas. Mungkin juga karena lelah. Sehingga kita sering sekali menjalaninya dengan begitu saja. Tanpa semangat. Sehingga waktu itu berlalu begitu saja.

Saya tidak sedang membicarakan apa yang ingin dicapai seseorang di masa yang akan datang. Bukan. Bukan itu. Tapi saya berbicara mengenai alasan sehingga kehidupan ini berjalan dengan lebih menggairahkan. Saya yakin setelah itu hasil yang memuaskan pun akan mengikuti. Karena proses menjalani kehidupan ini akan kita rasakan lama. Sehingga menjalani kehidupan dengan semangat setiap waktu tentu menjadi dambaan.

Saat sedang melemah, maka ingatlah alasan apa sehingga kita melakukan ini atau memilih jalan ini. Jika belum memiliki alasan, maka buatlah alasan itu sekarang juga. Cara lainnya adalah dengan mencari tahu alasan apa sebenarnya kita menjalani ini atau melakukan kegiatan ini.

Semoga saya dan anda semua bisa menjalani kehidupan yang menggairahkan setiap saat.

Remember what is your "Big Why" !

Tuesday, September 3, 2019


Pernah dengar ungkapan anak yang lahir itu bagaikan kertas putih? Ternyata teori ini salah dan sudah banyak dibantah oleh ahli ahli parenting muslim. Alasannya, setiap anak itu lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orang tua bukanlah mengisi kertas kosong , seperti teori yang selama ini berkembang, akan tetapi tugas orang tua adalah mengingatkan anak pada fitrahnya. Karena saat anak lahir, memorinya akan dihapus oleh Allah.

Oh iya, sebelum lanjut, saya ada beberapa rekomendasi pakar parenting. Mungkin saja berguna buat anda. Diantaranya ada Ust. Budi azhari dengan fokus parenting nabawiyyah, ust. Hary santosa dengan fokus parenting based fitrah, dan juga oma Elly Risman dengan ilmu psikologinya.

Kembali ke topik.
Jadi, anak anak itu sudah punya fitrah. Hal ini sesuai dengan hadist Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
  
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seroangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrah (Islam)nya. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadist tersebut memang membahas soal agama anak. Namun secara tidak langsung juga membahas setiap hal yang berkaitan dengan fitrah anak. Bahwa anak anak itu sudah membawa kemampuan sendiri untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Apa saja itu? Semuanya. Kemampuan bicara, berjalan, makan, bahkan belajar. Kita sebagai orang tua hanya perlu menyadari itu. Agar mendidik anak itu tidak lagi terasa berat.

Nah, itu dia teorinya. Faktanya beberapa waktu lalu saya benar-benar stag dalam hal mendidik anak-anak. Karena kondisi lagi berbadan dua, bawaannya selalu males. Anak-anak pun seakan terabaikan. Sampai suatu waktu, saya lihat ceramah seorang ustad tentang mendambakan anak shalih. Alhamdulillah saya sedikit tersentak dan kembali sadar. Akhirnya saya kembali memikirkan kegiatan bersama anak-anak meskipun lagi mager abis 😀😀

Jadi orang tua itu ya emang harus memaksakan diri. Maksudnya memaksa diri melawan rasa malas 🤣 karena musuh terbesarku, dan saya yakin musuh semua orang, adalah rasa malas.

Setelah merenung dan melawan rasa malas, saya lalu membuat rancangan belajar bersama Zahra dan Maryam. Lalu dipilihlah kegiatan membaca sebelum tidur. Anak-anak itu kan memang punya fitrah ingin tahu dan membaca adalah perintah pertama kepada Rasulullah, karena itu saya memilih kegiatan itu untuk mengasah keingin tahuan anak-anak.


Dulu sebenarnya kita sudah sering membaca sebelum tidur, jadi sekarang mudah membuat anak-anak tertarik kembali. Alhamdulillah mereka memang cukup antusias. Tantangannya kemudian bagaimana agar mamanya tidak bosan dengan agenda ini, hehe.

Rencananya ini adalah awal. Apalagi kakak Zahra sudah hampir memasuki usia 6 tahun. Kata oma Elly, sejatinya anak-anak baru dikasih calistung di usia 7 tahun. Ini pun bertepatan dengan perintah shalat yang baru dimulai usia 7 tahun. Artinya belajar yang sebenarnya baru dimulai di usia itu. Sekarang masih ada waktu setahun lebih untuk bersiap-siap sebelum hari itu tiba.

Jadi anak-anak ngapain aja di rumah? Kalau Zahra dan Maryam, kebanyakan main dan selebihnya berantem rebutan mainan. Ada aja sih sebenarnya yang direbutkan. Lalu apa yang diajarkan? Kita lagi mencoba kasih teladan yang baik. Karena menurut ust Budi, usia 2 sampai 7 tahun itu waktunya keteladanan dari orang tua. Sementara ini kita masih mencoba kasih teladan, dan aslinya kami lah yang harus banyak belajar. Karena mendidik anak-anak itu pun mengharuskan orang tua untuk terus belajar. 




Monday, September 2, 2019

Aktifitas pagi selalu menjadi momok yang menakutkan buat sebagian orang. Saya juga termasuk salah satunya. Yang terbayang ketika bangun tidur adalah seabrek pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Ditambah lagi dengan kehebohan yang diciptakan oleh anak-anak setiap bangun tidur.

Zahra & Maryam


Anak-anak adalah makhluk yang paling rewel saat bangun tidur. Ada saja tingkah mereka yang bikin gemes. Kadang mereka seakan membuat buat tindakan yang ujung-ujungnya mereka sendiri yang nangis. Sepertinya nangis itu adalah kewajiban di pagi hari. Padahal buat orang dewasa, khususnya saya, saya sangat mendambakan pagi yang lancar dan penuh dengan ketenangan. Namun semua itu hanya akan jadi mimpi karena berbanding terbalik dengan tingkah anak-anak.

Lalu, apa sebaiknya yang harus dilakukan agar pagi yang berisik tidak terulang setiap hari??

Pengalaman jadi ibu selama kurang lebih enam tahun setidaknya bisa membuat saya belajar sedikit dikit. Ditambah teori parenting yang sesekali saya baca namun lumayan membantu untuk mengatasi situasi. Setidaknya mengubah pagi yang berisik menjadi positif morning.

Pertama, sebagai seorang muslim saat bangun di pagi hari , atau lebih tepatnya saat subuh, yang pertama dilakukan adalah shalat subuh. Syukur-syukur kalau bisa membangunkan anak-anak untuk bisa shalat subuh berjamaah. Kalau belum bisa, jadikanlah momen shalat subuh untuk beribadah dengan khusyuk dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Ridho Allah dari ridho orang tua. Insyaallah berawal dari situ, hal positif akan mendatangi kita.

Setelah itu, ketika anak-anak sudah bangun dan bersiap untuk membuat kegaduhan 😅 cobalah menata hati dan sedikit mengalah kepada mereka. Turutilah keinganan mereka selama itu bukan hal yang berbahaya. Biasanya anak rewel karena merasa kebutuhan mereka belum terpenuhi. Saat kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi, insyaallah mereka akan lebih tenang dan tidak rewel setelahnya. Kalau pun sesekali mereka tetap rewel, frekuensinya akan lebih rendah jika dibandingkan ketika kebutuhan mereka belum terpenuhi.

Terakhir, evaluasi. Disinilah kita sebagai orangtua harus banyak-banyak bersyukur. Setidaknya kita harus memikirkan hal-hal positif apakah yang sudah anak-anak lakukan sejak bangun tidur tadi. Saat anak bisa bangun sendiri tanpa merengek, bukankah itu positif?. Mensyukuri hal-hal kecil dan mengapresiasinya, insyaallah membuat anak akan jauh lebih baik. Ingat, ridho Allah kepada anak-anak kita berawal dari ridho kita terhadap mereka. 

Semoga pagi kita selalu positif sehingga keseluruhan hari kita akan tetap positif. Ingat ridho Allah kepada anak-anak kita berawal dari ridho kita sebagai orangtua terhadap mereka. Jika Allah sudah ridho, insyaallah anak-anak kita akan mudah menjadi anak yang sholih atau sholihah.

Sunday, August 18, 2019

Sudah 74 tahun. Ya betul. 74 tahun bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Alhamdulillah. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang merasakan kegembiraan di tanggal 17 agustus ini. Saya ingat dulu semasa sekolah. Saya selalu terlibat aktif dalam perayaan tujuh belasan. Baik itu mengikuti lomba gerak jalan, ataupun lomba-lomba lainnya.


Saat ini, setelah hidup di dalam kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, ditambah pengalam hidup selama dua puluh delapan tahun, saya jadi memiliki cerita tersendiri. Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya untuk seorang ibu rumah tangga seperti saya.

Jadi begini.

Saya ingin sedikit bercerita.

Katanya merdeka itu ketika kita bebas dari penjajahan. Ingatkan kita dengan kisah perjuangan para pahlawan yang telah berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk kemerdekaan bangsa ini. Semua itu demi anak cucu penerus negeri ini agar bisa bebas di dalam negerinya sendiri. Bebas dari penjajahan bangsa lain. Bebas dari perbudakan di negerinya sendiri. Alhamdulillah pada 17 agustus 1945 terucaplah kalimat kemerdekaan itu yang diwakili oleh Bung Karno.

Setelah hari itu, negara kita bukanlah bebas begitu saja. Namun masih ada usaha dari para penjajah untuk mengembalikan Indonesia ke cengkeraman mereka. Ribuan nyawa masih harus berkorban hingga negara ini benar merdeka dan kemerdekaannya diakui oleh bangsa lain.

Hari ini, kita alhamdulillah bisa merasakan kemerdekaan. Setidaknya tidak ada lagi bunyi ledakan senjata dimana-mana. Namun benarkah kita sudah merdeka seutuhnya? Ini masih menjadi tanda tanya besar oleh sebagian besar orang.

Sebagai emak, saya sendiri akan merasa merdeka jika tidak lagi merasakan jiwa terjajah. Tak lagi merasa tidur tak nyenyak karena hutang. Atau merasa khawatir anak-anak akan di bully di luar. Atau merasa khawatir suami tak lagi mendapatkan nafkah untuk keluarga. Bebas beragama, bebas berpendapat, bebas berkarya, dan bebas mengambil keputusan apakah anak-anak akan dimasukkan ke sekolah atau HS sesuai keinginan mereka. (heheh... jadi sedikit melebar).

Inti dari merdeka adalah bebas. Negara merdeka. Ekonomi merdeka. Politik merdeka. Pendidikan merdeka. Agama merdeka. Semua lini kehidupan merdeka. Agar kehidupan negeri ini kembali ke tatanan yang seharusnya. Saya berharap negara ini akan merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka.