Wednesday, January 16, 2019

Flowering Day


Alhamdulillah. Masyaallah. Saya merasa adem dan tenang di rumah hari ini. Bukannya tidak ada masalah ya. Adik dan kakak seperti biasa. Kalau habis akur ya berantem lagi. Nanti peluk-pelukan dan sayang-sayangan lagi. Nggak lama setelah itu mereka teriak-teriakan lagi. Biasalah anak-anak. 

Seperti biasanya kerjaan rumah juga seabrek banyaknya. Mulai dari barang-barang yang berantakan mulai dari ujung depan sampai ujung belakang. Cucian piring yang banyaknya seperti habis pesta yang menunggu untuk segera bersihkan. Pakaian kotor sudah numpuk dua baskom besar. Padahal kemarin saya juga sudah mencuci. Tapi hari ini cucian masih saja menggunung. Anak-anak yang menagih jatah sarapannya pagi-pagi buta karena hari ini mereka bangun jam 4 subuh dan masih banyak antrian pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.

Terlepas dari semua rutinitas itu saya merasa hari ini saya bisa tenang. Tidak ada perasaan buru-buru dan emosi melihat anak-anak menyisakan bekas mainan sana sini. Atau rasa cemburu kepada ayamnya abah yang selalu mendapatkan perhatian ekstra di pagi hari. Saya merasa santai dan biasa saja.

Begitu pula ketika magrib telah berlalu dan saya mengajak anak-anak membaca mereka pun menyambutnya dengan baik. Adik berbaring di dekatku sementara kakak masih berlari sana sini. Abah yang baru pulang dari mesjid langsung ikut berbaring di dekat adik pun sambil mendengarkan bacaanku. Terbukti saat aku menceritakan kisah nabi Dzulkarnain, abah bertanya "Jadi Dzulkarnain itu nabi dan juga rasul ya..?" tanyanya. 

Saya tiba-tiba teringat dulu saya sering diminta abah untuk membacakan berita-berita penting dengan suara keras. Jadi abah ini memang tidak suka membaca tapi dia senang dibacakan. Itulah mungkin kenapa abah tidak pernah menyertai kami membaca. Mungkin kedepannya saya akan kembali mengajak abah membaca (baca: mendengarkan saya membaca). Dengan begitu kami bisa tetap membaca bersama dengan bahagia. Its really a flowering day for me today.


#Day7
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Tuesday, January 15, 2019

Membaca Sebelum Tidur



Kakak sepertinya sudah sangat mengantuk siang ini. Dia mengambil bantal dan gulingnya dari dalam kamar lalu mengambil posisi di depan tv. Ia melirikku sejenak. Saya tahu dia kakak mau menonton tv sebelum tidur. Tapi saya memberi isyarat tidak boleh. Lalu dia kemudian berkata "Mak baca buku ki yuk".

Entah ada angin apa kakak minta diajak membaca buku. Padahal saat makan siang tadi saya menawarkan kepada anak-anak untuk membaca buku bersama setelah makan siang. Tapi Zahra dan Maryam kompak menolak. Abahnya sendiri hanya diam saja menikmati hidangan makan siangnya.

Saya dengan sangat bahagia menyambut ajakan kakak. "Ayuk mi nak" kataku mengiyakan. Saya dengan semanganya bangkit lalu beranjak ke kamar mengambil buku "Cerdas dan sholih bersama hafiz dan hafizah". 

Saya membuka buku itu tepat pada cerita Nabi Isa. Zahra yang melihat gambar maryam sedang menggendong Nabi Isa langsung tertarik ingin mendengar kisah Nabi Isa. Zahra sebenarnya sudah hapal dengan gambar itu. Dulu kami sering membaca kisah Nabi Isa itu sebelum tidur.

"Mak, maryam kah itu?" tanya zahra yang mencoba mengingat-ingat dulu pernah mengenal gambar itu.

"iye nak." jawabku singkat.

"Kalau itu yang digendong siapa?" tanyanya lagi.

"Itu kan nabi Isa, anaknya Maryam." Kataku mencoba menjelaskan.

Maryam yang sedari tadi nempel ke abahnya tiba-tiba menghampiri kami karena mendengar namanya disebut.

"Mak.. mak.. maryam kah itu? saya kah itu? " Tanya maryam sambil menunjuk gambar nabi isa yang digendong oleh maryam.

Maryam mengira bayi itu adalah maryam bukan nabi Isa. Ia menyamakan dengan dirinya yang juga bernama Maryam. Ia mau bayi itulah Maryam karena masih kecil seperti dia. Lalu saya mencoba menjelaskan bahwa Maryam yang ada dalam kisah itu adalah Maryam ibunda nabi Isa. Seorang wanita suci yang namanya abadi. Kebetulan namanya adik itu sama dengan bunda Maryam. Karena memang abah dan mama memberi nama Maryam agar Maryam nantinya meneladani kesholihan bunda maryam.

Kami membaca kisah nabi Isa hingga selesai. Lalu lanjut ke kisah nabi Muhammad. Zahra sendiri mendengarkan sambil mengunting-gunting karton. Sedangkan Maryam berbaring disampingku dan mendengarkan bacaanku dengan seksama. 

Baru setengah kisah nabi Muhammad saya bacakan, kakak minta saya berhenti. Katanya dia sudah capek. Saya lalu menghentikan bacaanku karena tidak ingin membuat anak-anak merasa terpaksa membaca. Beberapa saat kemudian kakak kembali ke tempat tidur yang telah dia siapkan tadi dan iapun segera tertidur.


#Day6
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Monday, January 14, 2019

Membaca Sendiri



Hari ini judulnya membaca sendiri. Bagaimana tidak, anak-anak sibuk bermain dan abah, yah seperti biasa, sulit diajak membaca. Kali ini alasannya setiap membaca katanya ndak masuk ji di otaknya. Oh Allah, speechless dengarnya 😣 Saya juga tidak mungkin mau memaksa mereka untuk turut membaca. Saya hanya bisa mengajak dan memberi contoh. Selain itu doa yang tiada henti saya panjatkan kepada Dia yang membolak-balikkan hati manusia. Semoga Allah membalikkan hati kami sekeluarga agar condong kepada kebaikan. Aamiin.

Saya ingat pesan bunda Hamidah. Beliau adalah fasilitator saya di kelas Bunda Sayang Batch 5 IIP Sulawesi. Beliau mengatakan bahwa kita hanya perlu memulai satu perubahan kecil di rumah maka kita akan lihat ada yang terasa berbeda di rumah. Yah, kurang lebih seperti itulah redaksinya.

Sejak saat itu saya menyakinkan diri saya dan saya berusaha menanamkan di alam bawah sadar saya bahwa saya hanya perlu melakukan suatu perubahan baik yang kecil setiap harinya. Jika lingkungan saya belum baik itu bukan alasan saya untuk berhenti berbuat baik. Saya yakin di atas sana Allah menyaksikan setiap usaha saya menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak. Allah tahu apa yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Saya tahu bahwa mengubah kebiasaan buruk menjadi baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi ingin mengubah semua itu dalam hitungan hari saja. Saya harus terus berlari kepada kebaikan hingga ajal menjemput saya. Saya harus terus memanjatkan doa agar keluarga saya mendapatkan hidayah dan tetap menggenggam hidayah itu hingga akhir usianya. Proses itu akan berhenti jika nafas ini telah berhenti. Sedangkan hasil itu milik Allah sepenuhnya.

Saya menikmati bacaan saya siang ini sambil menyaksikan anak-anak tertawa dengan mainannya. Saya masih harus terus bersyukur anak-anak bisa bahagia dan menyaksikan mamanya membaca. Siang ini saya ditemani oleh buku Parenting ++ Jilid 1. Sebuah buku yang memuat tulisan-tulisan bunda Elly Risma sekeluarga dari grup facebook Parenting With Elly Risman and Family. 


#Day5
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Sunday, January 13, 2019

Wahai Diri, Bersabarlah !



Sabarlah wahai hatiku agar aku bisa memenangkan pertarungan ini. Pertarungan antara keihklasan atau tuntutan. Pertarungan antara menginginkan kebaikan atau memaksakan kehendak. Pertarungan antara niat baikku agar tetap menjadi baik hingga akhir. Karena sejatinya perjuangan ini memerlukan stok sabar yang tiada batasnya.

Saya harus terus menyemangati diriku sendiri di dalam hati agar hatiku ini tidak tercemari oleh lingkungan yang sudah terlanjur buruk. Jika menginginkan kebaikan maka saya harus menyingkirkan keburukan itu meski sulit. keburukan itu adalah kebiasaan yang tidak baik di dalam rumah.

Saya harus mengambil satu stok sabarku hari ini ketika saya melanjutkan kegiatan membaca bersama keluarga. Bagaimana tidak, ketika saya sudah bersemangat ingin membaca,si abah malah sengaja tidur ketika di ajak membaca. Si kakak malah ikut-ikutan tidur karena melihat abahnya tidur. Adik sendiri berlari-lari, melompat-lombat sambil menjadikan rambutku sebagai tali. Subhanallah, hampir saja saya meledak dengan suasana itu.

Saya yang dari tadi membaca lanjutan kisah teladan nabi terus melanjutkan membaca buku dengan suara keras. Saya menyelesaikan tiga puluh menit hari ini meski lingkungan saya tidak mendukung saya. Setelah selesai, sambil berkaca-kaca dan penuh luapan emosi (namun tetap dengan nada suara datar) saya berkata kepada suami bahwa saya ingin keadaan keluarga kami berubah menjadi lebih baik. Seharusnya dia mendukung saya. Tapi meskipun begitu saya akan tetap melakukan perubahan ini meskipun sikap abah seperti ini.

Akhirnya, hari ini kegiatan membaca tidak lulus namun alhamdulillah saya masih bisa bersabar (baca: tidak marah-marah dengan nada keras) kepada suami dan anak-anak. Saya yakin sebuah keinginan yang besar akan mendapatkan tantangan yang besar pula. I will keep my spirit till the end.

#Day4
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst 

Saturday, January 12, 2019

Proses Itulah Milik Kita



Alhamdulillah. Siang ini kami bisa menjalankan agenda membaca bersama lagi. Saya sempat merasa pesimis bisa membaca hari ini karena pekerjaan saya begitu banyak di travel. sejak pagi pekerjaan seperti tidak memiliki ujung. Namun saya kembali harus banyak bersyukur karena pertolongan Allah selalu nampak dalam kehidupan kami. Semua berjalan lancar sebab pertolongan Allah yang begitu banyak.

Semua pekerjaan sudah selesai sekitar jam 2 siang. Abah juga tidak sedang tidur. Ini momen yang pas untuk mengajak suami dan anak-anakku membaca. Saya berharap respon anak-anak lebih baik dari kemarin.

"Anak-anak, yuuk kita membaca" ajakku kepada kakak dan adik yang sedang bermain di dekat meja kerjaku.

"Ayoo mak" seru mereka.

Kami segera melangkah masuk ke ruang tengah dengan semangat. Kami biasanya menjadikan ruang tengah untuk bereksplorasi. Termasuk kegiatan membaca akan selalu kami lakukan di ruangan sederhana ini. Maklum kami belum memiliki ruang belajar khusus.

Saya kemudian mengambil buku hafiz hafizah untuk dibaca dengan anak-anak sekaligus mengambilkan buku "7 Keajaiban Rezki" untuk abah. Saya lihat abah masih sibuk dengan gadgetnya. Saya sebenarnya sering merasa kesal jika abah selalu bermain gadget di depan anak-anak. Apalagi kalau yang dibuka selalu saja youtube. I don't mind what he watch on youtube that so interested for him. Seakan-akan youtube itu dunianya. Kadang saya sampai ngomong "hape itu tidak akan menolongmu ketika kamu butuh, anak-anak lah yang kini ada di dekatmu". Tapi ya sudahlah, memang butuh proses untuk mengajak dia hijrah dari gadget.

Let us forget about it. Saya kembali fokus ke tujuan. Saya harus mengesampingkan kekesalan saya demi meraih apa telah saya impikan. Saya mencoba mengajak abah dengan lembut untuk sama-sama membaca. Seperti biasanya, jika sudah main gadget, abah akan lupa segalanya. Dia seperti mengabaikan permintaanku. Tapi karena ini adalah momen yang pas untuk membaca saya sedikit memaksa. "Ayok mi abah, anak-anak sudah mau membaca" pintaku.

Alhamdulillah abah mau membaca bersama kami meski dengan keadaan terpaksa. Saya dan anak-anak masih membaca kisah sifat teladan Nabi pada buku hafiz hafizah. Kali ini saya membacakan tentang kisah "peduli kepada sahabat" dan "suka menolong". Jika kemarin adik yang fokus mendengarkan, alhamdulillah siang ini kakak yang lebih fokus. Kakak duduk di pangkuanku sambil mendengarkan suara ku membacakan kisah Nabi dengan keras.

Baru setengah cerita tiba-tiba kami kedatangan customer di travel. Saya terpaksa menghentikan aktifitas membaca sejenak dan melayani customer. Setelah selesai, saya masuk kembali untuk membaca bersama anak-anak. Saya lihat abah kembali dengan gadgetnya. Saat aku memintanya membaca, katanya dia sudah selesai. Oh Allah, rasanya kesel kesel pingin ngamuk 😡. Tapi ya sudahlah, saya fokus saja ke anak-anak.

Hmm.. Jadi seperti itulah cerita kami hari ini tentang proses mencintai aktifitas membaca. Proses itu lah yang harus dinikmati karena proses itu yang akan dikenang oleh anak-anak. Proses itulah yang bisa kita lakukan. Proses itulah milik kita. Sebaik-baiklah kita berproses biarkan Allah yang menghadiahkan hasil kepada kita dengan kemahabijaksanaanNya.


#Day3
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst 

Friday, January 11, 2019

Tiga Puluh Menit Pertama


Tantangan dimulai hari ini. Saya dulu pernah memulai tantangan ini sejak kakak berusia satu tahun. Tapi saya berhenti ketika setiap malam saya merasa mulai kelelahan dan tidak bersemangat membacakan buku untuk anak-anak lagi. Saya lah yang telah membunuh semangat membaca mereka yang tengah membara. Saya lah yang menjauhkan mereka dari kecintaanya terhadap buku. Kini saya harus berusaha lagi dari nol untuk memulai menumbuhkan kecintaan mereka terhadap buku.

Saya lebih memilih bersusah payah lagi untuk memulai membacakan buku kepada anak-anak. Daripada saya harus menyesal ketika anak-anak menjauh dari buku dan lebih mencintai gadget. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk saya.

Saya sudah mengatur rencana untuk memulai aksi hari ini. Hari ini kami akan membaca buku hafiz hafizah dimulai dari kisah nabi Muhammad saw. Kami memilih buku hafiz hafizah karena di dalamnya ada kisah para nabi, kisah sifat teladan nabi dan banyak ilmu bermanfaat lainnya. Selain itu karena memang buku di dalam rumah kami masih sangat terbatas. hiks.😥

Pada prakteknya hari ini saya mengajak anak-anak untuk mengambil buku hafiz-hafizah yang telah lama berdiam diri di rak buku. Saya yakinkan diri saya apapun respon anak-anak nanti saya akan terus membaca. Tidak perduli mereka dengar atau tidak saya akan tetap membaca. karena hari ini adalah opening maka saya harus sukses membawakannya. Jika anak-anak melihat kami orangtuanya membaca setiap hari insyallah mereka pun akan ikutan membaca.

Diluar rencana siang ini abah tidur. Saya tidak mungkin menunggunya karena nanti agenda lain bisa terbengkalai. Saya tetap melanjutkan rencana ini meski sendirian. Kami bertiga mengambil posisi di dekat pintu samping karena cuaca agak sedikit panas. Saya mulai membaca lembar pertama kisah nabi Muhammad saw. Anak-anak pun terlihat memasang telinga mendengarkan kalimat demi kalimat yang saya bacakan. Saya berharap anak-anak tetap anteng hingga tiga puluh menit pertama membaca hari ini terlewati.

Jauh panggang dari pada api. Apa yang saya harapkan tidak sesuai kenyataan. Anak-anak mulai bertingkah dan membuat keributan. Mereka tertawa keras seakan sengaja tidak ingin mendengarkan suara saya. Sesekali saya meminta mereka untuk diam mendengarkan namun mereka kembali ribut. Kakak bahkan dengan terang-terangan menolak untuk membaca bersama saya.

Saya hampir menyerah namun saya mencoba memutar otak. Mungkin anak-anak tidak suka bacaannya karena tidak ada kisah di dalamnya. Lalu saya mencoba membuka halaman lain. Saya memilih kisah teladan nabi dengan sub title 'Berani'.

Adik maryam mulai mendekat dan tertarik dengan cara saya membacakan kisah Nabi Muhammad saw melawan rukanah. Kakak yang tadinya menjauh mulai mendekat tapi tetap tidak ingin membaca bersama kami. Saya terus melanjutkan membaca kisah keberanian nabi hingga sampailah pada waktu yang telah kami tentukan sebelumnya. 

Pelajaran hari ini adalah mungkin akan susah mengajak mereka menyukai buku dalam waktu sekejap. Namun cukup tiga puluh menit pertama diusia mereka saya akan membacakan buku dengan suara keras kepada mereka. Entah mereka mendengarkan atau tidak tapi mereka akan melihat bahwa setiap hari abah dan mamanya membaca buku. Semoga dengan itu mereka pun takkan melewatkan satu hari pun dari hari hari mereka tanpa membaca.

#Day2
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Thursday, January 10, 2019

Pohon Literasi Keluarga Ahmad Saleh

Bismillah. Siang ini saya coba bicara sama suami tentang kegiatan membaca di rumah. Kebetulan dapat tugas juga dari kelas bunda sayang mengenai menstimulus anak suka membaca. Saya memang sudah kepikiran ingin mengajak seluruh keluarga untuk membaca. Karena membaca adalah perintah pertama yang datang kepada Rasulullah. Kita diminta membaca agar kita bisa mengenal pencipta kita.

Dulu saya sering membacakan buku kepada anak-anak. Tapi karena mereka masih sangat kecil perasaan bosan itu datang. Lalu kegiatan membaca menjadi berhenti total. Meski begitu di dalam hati saya tak pernah padam niat ingin membaca bersama suami dan anak-anak. Saya sepertinya harus memaksakannya mulai hari ini agar niat itu bisa terlaksana.

Siang tadi abah masih asyik dengan handphonenya namun saya sudah bertekad untuk membicarakan ini dengannya. Terjadilah dialog antara kami.

Saya : Abah, ada niatku mau ku bilang.
Abah : hmm.. apa ? (masih dengan mata tertuju kepada hape)
saya : Buka i dulu headset ta !
Abah : Apa ka? (dengan nada sedikit kesal)
Saya : Abah kita ingat dulu to waktu Rasulullah pertama kali diangkat jadi Nabi. Rasulullah diminta membaca sama malaikat Jibril.
Abah : hmm.. kenapai?
Saya : Abah, bagaimana kalau mulai sekarang setiap harinya kita luangkan waktu membaca sama anak-anak.
Abah : Iyo. na membaca meka ini na. (Membaca status facebook maksudnya)
Saya : Bukan membaca pakai hape tapi membaca buku. Supaya ini anak-anak kalau na liat orang tuanya membaca ikut-ikutan juga nanti mau membaca. Karena anak-anak kan suka ikut-ikutan kalau ada di
kerja. Jangan mi lama-lama, 30 menit mo dalam sehari yang penting rutin.
Abah : ..... (tanpa kata)

Biasanya jika abah sudah diam seperti itu tandanya dia setuju. Tapi karena dia dengan sifat kepemimpinannya tidak suka diperintah tapi lebih senang diberi saran dia akan gengsi jika menuruti kata-kata istrinya. Biasalah gengsi tingkat tinggi.. heheh

Sesaat kemudian
Saya : Abah ada tugasku bikin pohon literasi di kelas bunda sayang.
Abah: Apa itu??
Saya : Jadi pohon literasi itu gambar pohon terus nanti daun-daunnya itu ditempel satu per satu. Setiap ki sudah membaca tempel ki lagi satu daun. Jadi bikin semangatki. dan anak-anak pasti suka. Apalagi kalau berkesan ini bisa na ingat nanti sampai besar.
Abah : Oh.. bikin mi pale !
Saya : Abah kita mi bikin ka lek karena tidak ku tau  saya menggambar na..
Abah : .... (diam lagi)


Beberapa waktu kemudian saya mengajak anak-anak ke toko ATK untuk membeli perlengkapan untuk membuat pohon literasi. Anak-anak , biasa, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi sangat antusias ketika diajak ke toko ATK. Pas liat mamanya beli kertas manila dan kertas sampul warna mereka mulai sibuk dengan serbuan pertanyaannya. Saat saya bilang mama mau bikin pohon mereka lebih antusias lagi.

Kami segera pulang dan segera mencari abah. Kakak yang sejak tadi sudah sangat penasaran mulai teriak teriak mencari abahnya. "Abah bikin mi pohon... abah.. abah..." teriak kakak. Dia terus mencari keberadaan abahnya sampai ketemu. Ketika menemukan abahnya sedang berbaring di kamar kakak terus menarik-narik abahnya agar segera membuat pohon. Alhamdulillah jadilah pohon literasi kami.
pohon literasi
Semoga rencana merutinkan aktifitas membaca di rumah mulai besok dapat berjalan lancar. Hari ini cukup ajakan dulu, insyaallah mulai besok prakek. Sedikit demi sedikit yang penting terus berusaha tiada henti.


#Day1
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Entri yang Diunggulkan

Flowering Day

Alhamdulillah. Masyaallah. Saya merasa adem dan tenang di rumah hari ini. Bukannya tidak ada masalah ya. Adik dan kakak seperti biasa. Ka...